Jelang Pemilu, DPC GMNI Siantar Ajak Generasi Milenial:”Kawal Pemilihan Berintegritas”

AN, Siantar Sumatera Utara- Komisi Pemilihan Umum ata KPU telah menetapkan Daftar pemilih Tetap (DPT) secara nasional 2024 sebanyak 204.807.222 jiwa. Sebanyak 52 persen dari angka tersebut didominasi oleh pemilih muda. Data tersebut bisa dilihat di laman resmi Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI). Dan Daftar Pemilih Tetap (DPT) di Kota Pematangsiantar sebanyak 202.206 jiwa.

Hitungan hari (H-10) yaitu14 Februari 2024 selaku Warga Negara yang baik , yang mempunyai hak pilih sesuai regulasi KPU akan menentukan pilihannya di bilik suara.

Tidak jarang pemuda dibebani harapan besar untuk turut menentukan arah politik bangsa. Baik dalam ranah praksis maupun ideologis. Suara politik mereka dinilai menjadi penentu untuk memilih pemimpin berkualitas.

Menanggapi itu, Ketua Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPC- GMNI) Pematangsiantar periode 2023-2025, Ronald Panjaitan mengajak pemuda agar aktif mengambil peran dalam dunia politik. Terutama berpartisipasi dalam mengawal pemilu damai dan berintegritas.

“Sebagai generasi yang hidup dalam keterbukaan informasi, generasi muda tetap harus menjaga betul kapasitasnya. Terutama untuk mengawal bangsa dan negara. Sebab, pemuda selalu diposisikan dalam terminologi yang ideologis, Hal itu harus kita sadari bersama agar pemuda dapat mengawal pemilu damai dan berintegritas,” Kata Ronald Panjaitan didampingi Sekretaris Daniel Tampubolon

Dilanjutkan olehnya, GMNI Pematangsiantar mengajak seluruh kaum intelektual terutama generasi milenial jangan sampai antipati terhadap politik dan mari bersama-sama memerangi isu hoax supaya tercipta pemilu damai, sejuk, dan berkualitas.

“Tentunya di era digital ini sebagai kaum intelektual dan generasi milenial yang paham akan masifnya penyebaran informasi dari berbagai media, GMNI Pematangsiantar juga menyatakan perang terhadap berita hoax,” Tandasnya.

Dia berharap, jangan sampai karena berbeda pilihan dan dukungan dalam pemilu, akan merusak persatuan dan kerukunan sebagai suatu bangsa yang majemuk.

“Pemahaman sejarah bagi generasi Z dan milenial sangatlah penting. Ini mengingat apa yang dilakukan seseorang di masa depan tak lepas dari sejarah yang membentuk watak orang tersebut. Apalagi jika seseorang tersebut punya catatan buruk di masa lalu, maka janji manis masa depan yang dilontarkan patut dipertanyakan integritasnya. Apalagi Indonesia punya kepentingan untuk memanfaatkan peluang bonus demografi di tahun 2045. Maka praktik buruk di masa lalu seperti korupsi, pelanggaran hak asasi hingga penguasaan ekonomi oleh segelintir kelompok penguasa tak boleh terjadi lagi,” Harapnya.(red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *